GUBERNUR Jawa Barat Ahmad Heryawan
mengukuhkan Wans Ibrahim sebagai Ketua Dewan Koperasi Indonesia Wilayah Jawa
Barat periode 2009-2014. Pengukuhan tersebut berlangsung di Aula Gedung Sate
Bandung, Rabu (26/8/2009)
Nampak menghadiri acara itu, Ketua Umum
Dekopin Adi Sasono, Sekjen Dekopin Yuzri Suhud, Direktur Lembaga Pendidikan
Perkoperasian Dekopin Marsono Mochtarom, unsur Dekopinwil dan gerakan koperasi
di Jabar, Dinas Koperasi dan UKM, serta beberapa pejabat pemerintah daerah.
Heryawan berharap, pengukuhan Pengurus
Dekopinwil Jabar dapat mengevaluasi terhadap kenyataan ketidakadilan sosial
yang terjadi. Semua lapisan masyarakat menyepakati bahwa koperasi dan usaha
kecil dan menengah adalah jaring pengaman perekonomian nasional. Karena itu
perannya harus terus ditumbuhkan dengan berbagai upaya termasuk pengadaan
anggarannya.
Ia juga menyayangkan keberadaan
koperasi yang belum bersinergi dengan perbankan umum. Regulasi perbankan
nasional harus mendorong dan berpihak kepada pelayanan koperasi dan UKM,
sehingga perlu adanya kerjasama antara perbankan, lembaga keuangan mikro dengan
masyarakat koperasi.
Penyaluran kredit perbankan terhadap Koperasi dan usaha mikro kecil menengah (KUMKM) yang belum bankable harus bisa diakali dengan rekayasa agunan kepercayaan sebagai bentuk keberpihakan. Karena keberadaan KUMKM harus didukung karena sudah terbukti telah menjadi ketup pengaman perekonomian dan tenaga kerja di saat kerisis.
Penyaluran kredit perbankan terhadap Koperasi dan usaha mikro kecil menengah (KUMKM) yang belum bankable harus bisa diakali dengan rekayasa agunan kepercayaan sebagai bentuk keberpihakan. Karena keberadaan KUMKM harus didukung karena sudah terbukti telah menjadi ketup pengaman perekonomian dan tenaga kerja di saat kerisis.
“Harus ada keberpihakan yang terus
dijalankan dan menjadi kebijakan besar dari perbanka, seperti dengan menjalin
kerja sama melalui Linkage antara perbanka besar dan lembaga keuangan
mikro di daerah agar lembaga keuangan mikro bia terjun langsung
menggerakan sektor usaha kecil di daerah,”katanya.
Menurut dia saat ini perbankan dengan
regulasi agunan memang masih bisa di pahami sebagai prinsip perbanka.
Namun seharusnya,perbankan juga bisa memanfaatkan agunan berbentuk kepercayaan
terhdap sebuah kelaikan usaha yang seperti itu juga ada agar KUMKM bisa
terus berkembang” ujarnya.
Heryawan menuturkan baru-baru ini Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) mengumum kan jumlah tenaga kerja baru dalam setahun yang mencapai sekitar 246.000 orang. Dan 67 persennya atau sekitar 164.000 tenaga kerja berasal dari sektor KUMKM. Pihaknya juga terus mendorong Bank Jabar Banten (BJB) untuk terus menggenjot kredit KUMKM. Itu sudah terlihat dari komposisi kredit dari 90% kredit konsumsi dan 10% untuk KUMKM. Sekarang komposisinya sudah 65% : 35%.
Heryawan menuturkan baru-baru ini Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) mengumum kan jumlah tenaga kerja baru dalam setahun yang mencapai sekitar 246.000 orang. Dan 67 persennya atau sekitar 164.000 tenaga kerja berasal dari sektor KUMKM. Pihaknya juga terus mendorong Bank Jabar Banten (BJB) untuk terus menggenjot kredit KUMKM. Itu sudah terlihat dari komposisi kredit dari 90% kredit konsumsi dan 10% untuk KUMKM. Sekarang komposisinya sudah 65% : 35%.
”Bank –bank lain juga sudah mulai
serius menggarap sektor KUMKM. Dengan keberpihakan seperti itu diharapkan KUMKM
di Jabar bisa terus tumbuh,”ujarnya.
Dalam pengukuhan tersebut, Adi Sasono
mengatakan, pengukuhan Ketua Dekopinwil Jabar diakui sebagai komitmen dari
pemda Jabar dalam mewujudkan cita-cita gerakan koperasi yakni menciptakan
keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.
“Tugas kita sebagai gerakan koperasi adalah mengatasi ketidakadilan sosial. Ukuran kesejahteraan adalah ketika terjadi keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat,” tegas Adi.
“Tugas kita sebagai gerakan koperasi adalah mengatasi ketidakadilan sosial. Ukuran kesejahteraan adalah ketika terjadi keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat,” tegas Adi.
Adi mengakui, Jawa Barat sebagai
provinsi yang mempunyai komitmen kuat dalam memberdayakan ekonomi kerakyatan,
dimana Jabar merupakan daerah lahirnya gerakan koperasi pada 12 Juli 1947.
Lebih lanjut Adi mengatakan, Dekopin telah menyelenggarakan jaringan online
pada koperasi simpan pinjam di seluruh Jabar. Penggunaan jaringan ini merupakan
upaya menjadikan koperasi lebih maju dan moderen berbasis pemanfaatan teknologi
informasi. Jabar juga dinilai telah mengembangkan penggunaan pupuk organik, dan
mulai meninggalkan penggunaan pupuk kimia, sehingga menjadikan provinsi ini
sebagai lumbung padi. Selain peningkatan ketahanan gizi masyarakat melalui
pengembangan program peternakan dan perikanan laut.
Di samping beberapa hal tersebut,
menurut Adi, Kehadiran Institut Manajemen Koperasi Indonesia, juga merupakan
harapan besar bagi gerakan koperasi dan pemerintah dalam menyediakan tenaga
profesional yang handal dalam bidang perkoperasina di tanah air.
Ketua Dekopinwil Jabar masa bakti
2009-2014, Wans Ibrahim mengemukakan masalah permodalan memang kerap
menjadi problem. Namun, koperasi sebagai usaha bersama yang saling
menguntungkan angotanya harus kembali memahami prinsip kemandirian
koperasi. ”Saat ini yang akan terus di tingkatkan bagi koperasi di Jabar
adalh profesionalitas SDM pengelolah koperasi agar mampu membangun kopersi
supaya 23.000 koperasi di Jabar masih terus eksis dan tida ada yang gulung
tikar,” ujarnya. Koperasi juga, katanya, harus meningkat kan jaringan
usaha dengan berbagai pihak serta mampu mengelola dan memanfaatkan modal usaha
secara mandiri serta tidak tergantung terhadap permodalan dari luar.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar