“Perkiraan Bank Dunia di 5,3% terlalu rendah dengan keadaan saat ini. Mereka melihat prospek ekonomi kita pakai data yang lama. Mereka tidak sadar bahwa ekonomi Indonesia sudah berbalik arah,” ungkap dia di Jakarta, Rabu (19/3/2014) malam.
Purbaya mengakui jika kuartal III tahun lalu, kondisi ekonomi Indonesia dalam keadaan kritis karena melambat. Namun kondisi justru berbalik arah ketika Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan (BI Rate) dan pemerintah tidak mengerem pertumbuhan ekonomi lagi.
“Jadi sekarang ini ekonomi kita bergerak ke arah yang lebih baik. Jadi menurut saya pertumbuhan ekonomi 5,8% di 2014 tidak sulit untuk dicapai,” kata Purbaya.
Lebih jauh dia menjelaskan, dampak larangan ekspor mineral mentah (ore) ke neraca perdagangan Indonesia tidak terlalu signifikan. Pasalnya, kontribusi ekspor minerba terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) paling rendah 0,2% dan 0,8% paling tinggi.
“Berapa multiplier effect minerba ke ekonomi? Berapa orang yang bekerja di minerba? Sedikit, bahkan kontribusi minerba cuma 0,8% ke ekonomi Indonesia jadi tidak terlalu dalam. Sedangkan permintaan domestik kita kencang,” tambah Purbaya.
Di sisi lain, dia bilang, perbaikan fundamental ekonomi Indonesia memicu aliran dana asing masuk ke negara ini. Investor asing, sambung Purbaya, tertarik menanamkan modalnya ke Indonesia.
“Kelihatan modal asing suka dengan ekonomi kita. Makanya saya aneh Bank Dunia bisa prediksi pertumbuhan ekonomi kita 5,3%. Tapi jangan khawatir, prediksi mereka salah terus. Jadi jangan terlalu percaya,” tandas Purbaya.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar