JAKARTA -- Pemerintah menilai kesadaran masyarakat untuk
berkoperasi masih kurang sehingga perlu menggalakkan sosialisasi betapa
pentingnya koperasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya
mereka di pelosok perdesaan.
Terutama masyarakat yang biasanya mengalami kesulitan mengakses
permodalan ke sumber pembiayaan lembaga perbankan.
Untuk itu, pemerintah setiap tahun melaksanakan gerakan masyarakat
sadar koperasi (Gemaskop) sebagai upaya meningkatkan kemauan masyarakat berkoperasi.
Setyo Heriyanto, Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi
dan UKM, menjelaskan Gemaskop diluncurkan memang untuk mensosialisasikan
pentingnya koperasi untuk masyarakat. Sasarannya adalah kelompok masyarakat,
siswa sekolah menengah umum, dan mahasiswa.
”Bagi kelompok masyarakat maupun individu yang telah terlibat
dalam gerakan koperasi, diharapkan partisipasinya agar semakin aktif. Bagi yang
belum jadi anggota koperasi diharapkan segera bergabung. Kegiatan berkoperasi
bisa dilaksanakan dalam berbagai bentuk kegiatan,” katanya kepada Bisnis, Senin
(9/6/2014).
Kegiatan yang dimaksud mulai dari pendidikan, penyuluhan, seminar,
diskusi dan ceramah.
Kegiatan Gemaskop diharapkan tidak hanya bersifat seremonial,
sehingga semakin menarik bagi masyarakat.
Dalam kegiatan Gemaskop diundang koperasi yang telah berhasil,
termasuk yang berhasil meraih penghargaan.
Menurut dia, kegiatan Gemaskop selalu melibatkan masyarakat luas,
sehingga mereka diharapkan semakin dekat dengan koperasi dan semakin sadar keberadaannya.
Dikemukakan, keberadaan koperasi sebenarnya tidak asing bagi
masyarakat Indonesia. Namun masih perlu sosialisasi.
Eksistensi koperasi akan semakin tangguh apabila telah mempunyai
berbagai infrastruktur sebagaimana kehadiran gerakan perkoperasian.
Misalnya, kantor sudah ada, struktur organisasi lengkap, dan
kantor tidak menumpang.
Kelengkapan ini untuk membedakan gerakan koperasi dengan
paguyuban.
Secara nasional, jumlah koperasi Indonesia mencapai 203.701 unit.
Meski demikian, Setyo tidak memungkiri 60.000 unit di antaranya
dinyatan tidak aktif. Artinya, tak ada lagi kegiatan usaha, tidak ada pengurus
dan papan nama koperais juga tidak ada.
”Dengan alasan itulah Kementerian Koperasi dan UKM dalam tiga
tahun terakhir rutin melaksanakan Gemaskop yang diselenggarakan secara
besar-besaran. Dari kegiatan itu diharapkan mampu menunjukkan kembali
eksistensi koperasi sebagai penggerak ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Yang paling diharapkan dari kegiatan rutin itu, masyarakat bisa
semakin sadar manfaat organisasi koperasi untuk menggerakkan perekonomian dan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Khususnya, bagi masyarakat di perdesaan
yang masih kesulitan mendapatkan pembiayaan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar