Penerimaan Penghargaan Bhakti Koperasi 2019









Jumat, 25 Oktober 2019

Indonesia Masih Terkendala Ciptakan Ekosistem Ekonomi Digital

Kamis, 24 Oktober 2019 | 16:15 WIB
Ziyan Muhammad Nasyith 
zhiyanlampard@gmail.com


Direktur Wholesale and Internasional Service PT Telkom, Edwin Aristiawan (kiri) bersama Rektor Telkom University, Adiwijaya saat berbincang dengan penjaga stand pada acara Bandung ICT Expo 2019 di Kampus Tel-U, Bojongsoang, Kab. Bandung, Kamis (24/10/2019)

INDONESIA masih terkendala dalam menciptakan ekosistem ekonomi digital, karena kesenjangan antara kebutuhan dan suplai talenta digital mencapai 9.000 orang setiap tahunnya. Sehingga, sampai 2030 mendatang Indonesia diprediksi masih akan kekurangan sekitar 650.000 talenta digital.
Direktur Wholesale and International Service PT Telkom, Edwin Aristiawan didampingi Rektor Tel-U, Adiwijaya, menilai bahwa potensi talenta digital di Indonesia sebenarnya sangat besar. Tidak sedikit dari anak muda yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, namun sangat pandai membuat program digital.
"Banyak yang tidak kuliah, tetapi mereka pintar dalam coding program. Selain itu banyak juga yang sudah bisa membuat program dan menginisiasi ekosistem digital, tetapi belum sampai ke ekosistem ekonomi digital, belum bisa menghasilkan uang dari ekosistem digital tersebut," ujar Edwin saat diwawancarai seusai membuka Bandung ICT Expo di Kampus Telkom University (Tel-U), Bojongsoang, Kab. Bandung, Kamis (24/10/2019).
Edwin menuturkan, sebagai negara yang memiliki potensi pasar ekonomi digital sangat besar, mendorong pihaknya untuk memperbanyak talenta dan menjadi salah satu negara yang kuat dalam ekonomi digital.
"Potensi pasar itu bisa dilihat dengan perubahan perilaku konsumen dari waktu ke waktu. Terutama perubahan dalam adopsi teknologi digital. Pada 2019 konsumsi data digital di Indonesia sudah mencapai 6,3 gigabite per kapita. Jumlah itu mengalami lonjakan tajam dari sebelumnya hanya 1,7 gigabite per kapita pada 2015," terangnya.
Dirinya menjelaskan, konsumsi data digital masyarakat Indonesia bahkan diprediksi mencapai 37,9 gigabite per kapita pada 2025 mendatang. Hal itu didukung pula oleh sebaran pengguna internet yang sudah mencapai 50 persen, dari total penduduk Tanah Air yang rata-rata mengkases internet selama 8 jam 51 menit setiap harinya.
"Indonesia juga tercatat sebagai pengguna pasar digital facebook nomor 3 di dunia, dengan penetrasi penggunaan smarphone mancapai 60 persen. Selain itu, konsumen e-commerce sudah mencapai 40 persen," ungkapnya.
Senada dengan Edwin, Deputi Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Institute dan Keuangan Digital, Sukarela Batunanggar menilai, saat ini perbankan konvensional pun tengah terancam oleh digitalisasi ekonomi.
"Masa depan keuangan dan perekonomian dikendalikan oleh lima faktor. Selain disrupsi teknologi, pengaruh kuat juga datang dari perubahan perilaku konsumen, regulasi pemerintah, model bisnis perbankan dan munculnya pemain baru berupa layanan keuangan digital atau financial technology (fintech)," ungkap Sukarela.
Tumbuh suburnya fintech, diakui Sukarela menjadi salah satu pemicu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tak heran, Indonesia menempati ranking ke-4 Asia Pasific dan ranking ke-16 dunia sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi terbaik pada 2018.
"Jika mampu memanfaatkan potensi yang ada dan terus menumbuhkan talenta digital, maka Indonesia diprediksi bisa menempati ranking 4 atau 7 dunia sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi terbaik pada 2030. Hal itu sangat mungkin, karena Indonesia memiliki bonus demografi yang bisa menjadi senjata ampuh untuk merealisasikan prediksi tersebut," ujarnya.
Editor: Endan Suhendra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar